Oleh: PBC | Januari 21, 2010

Tips Meningkatkan Performance P200

Jeskoneng WROTE di otomotif.net :

10-16-2008, 16:49:21

1) Disini banyak bro yang ahli dan pengalaman dalam meningkatkan performa mesin motor

2)Aku sudah telanjur memodif P200 ku walau masih sebatas pheripheral (tanpa menyentuh mesin), yaitu :
– Port n Polish di MJ (bahkan sudah 2 kali, yang kedua adalah memapas tonjolan boss klep)
– Potong Pulser di MJ
– Ganti CDI dng BRT Smart Click di MJ (setting pengapian pada 34/36 drajat dengan switch pengontrol dualband, dan limiter rpm pada 11.500)
– Ganti Koil dng ex CBR 400 di MJ
– Ganti Karbu dng Keihin PE28 di MJ (PJ38/MJ120)
– Ganti Air Filter dng K&N yang langsung nancep di karbu
– Ganti Muffler dng model Free flow by 3DI Depok Sawangan dng pipa strimin (yang ada di dalam tabung muffler) berdiameter 3,5 cm
– Ganti gir depan ukuran 15 mata merk TK Racing
– Ganti Busi Nology non-resistor
– Ganti Per Kampas Kopling dng merk CLD di MJ

Catatan :
– rem blakang udah ganti disk ex Satria Thai di MJ
– ban depan Battlax BT45 – 100/80/17, blakang IRC Thai Std Ninja 250 – 130/70/17
– hasil dynotest di Mototech Jogja (sebelum ganti per kampas kopling dan busi Nology dan PnP jilid 2) tenaga puncak adalah 18,7 HP on wheel. Menurut mas Yuli Kwok manajer Mototech, tenaga std P200 adalah sekitar 16 HP on wheel.
– Hsl test di MRTB (Multi Roller Test Bench) di beres Bajaj MayJen Sungkono Sby : topspeed 144 kpj, dan gas blm habis, tapi rpm sudah sekitar 11.500…
Bro semua,
sampai hari ini tambahan modif di P200 ku :
– per kampas kopling pake yang lebih keras, merk CLD (Cileduk) yang untuk Kharisma
– Koil CBR400 lagi diistirahatkan, sekarang lagi nyobain 2 buah koil Blue Thunder ver 3.0, krn pengen tau gimana kinerjanya dalam bekerjasama dengan CDI BRT Smart Click… blum bisa nyoba di rpm atas, karena hari2 ini hujan terus di magelang-jogja…
– Sedang disiapin oleh bengkel MJ : Cyl Head baru std P200 mau dipasangi klep dan cs-nya ex Tiger (thanx bro Hanx atas masukannya), dan PnP tapi portingannya gak extreme, cuma polish aja, tanpa memapas tonjolan boss klep..
– cakram blakang ex Satria Thai bermasalah, sehingga master rem terpaksa diganti dengan merk Kitaco, udah sip lagi…
– Lagi nyari2 velg aftermarket yang lebih lebar dari pada velg std P200 (1,85 dpn/2,5 blakang), velg HMF (2,5 dpn/3.0 blakang) ternyata tdk bisa dipasangi sensor spido digital std P200, jadi masih nyari2 lagi neh… ada yang bisa bantuin info ??

Last modif:
11-09-2008, 16:29:10
Lapor bro semua… sampai hari ini di P200 ku aku sudah nyobain beberapa kombinasi CDI/Koil/Karbu/busi/air filter/muffler dan kesimpulan dari trial n error itu adalah : kombinasi terbaik untuk mesin yang masih std (belum bore-up) adalah : CDI BRT Smart Click/Koil std/busi Nology/Karbu PE28/air filter K&N/Muffler free flow dengan pipa daleman ukuran 3 cm…. Skarang terpaksa disimpan saja adalah : koil CBR400(1 koil untuk 2 busi) dan 2 pcs koil Blue Thunder ver 3.O, disamping CDI std yang udah digantikan oleh BRT, dan karbu std CV29 Mikuni yang digantikan oleh Keihin PE28, dan box filter std yang digantikan oleh open air filter K&N serta muffler std…. Pelajaran terpenting dari rangkaian trial n error itu adalah :
– CDI BRT dibuat dan dirancang bekerja maksimal dengan koil std. Jadi kalo dikombinasikan dengan CDI non-std, hasilnya malah mengecewakan (aku sudah mencoba kombinasi CDI BRT dengan koil CBR400 dan koil Blue Thunder ver 3.0, dua2nya hasilnya mengecewakan, terutama di rpm 8000 keatas tenaganya “kosong”)
– Settingan pengapian pada CDI BRT maksimum advance adalah 36/34 drjt dengan switch untuk memfungsikan fasililtas socket dual band CDI BRT Smart Click, dan limiter rpm pada 10.500 rpm. Lebih dari itu kasian klep bisa tabrakan dan patah…
– Kalo mau ganti muffler dengan model free flow, jika ingin tenaga rata dari bawah sampai rpm atas, diameter pipa di dalam muffler sbaiknya tidak lebih dari 3 cm aja. Kalo lebih besar, pasti tenaga akselerasi bawah bagus, tapi topspeed memble…
– Dengan karbu PE28, Fuel Consumption drop menjadi antara 27-32 km/liter tergantung perlakuan pada grip gas…. Bandingkan dengan karbu std P-200 yang bisa mencapai 42 km/liter….
Dan skarang ini aku cukup puas dengan performa P200ku… menurut hasil dyno di Mototech Jogja, peak power skarang adalah 19 hp on wheel, dibanding skitar 16 hp pada kondisi std nya….
Proyek selanjutnya : sudah beli Cyl Head baru, untuk di Polish aja tanpa di porting dan tanpa papas tonjolan boss klep, untuk dipasangi klep orisinalnya Tiger termasuk per2nya/seating/boss…. karena klep Tiger payungnya lebih lebar dan batangnya lebih tebal diameternya daripada klep std P200, jadi diharapkan lebih kuat/aman pada kitiran mesin diatas 10.000 rpm…. lagi dikerjakan oleh bengkel MJ spesialis Pulsar di Arteri Pondok Indah… Nanti akan kulaporkan gimana hasilnya…
Hasil akhir:
07-10-2009, 00:48:04
[BCatatan dyno test 26 Juni 09[/B]

Akhirnya, tgl 26 Juni 09 telah terlaksana dynotest si BJ di Mototech Jogja, dihadiri para undangan dan tamu bro2 dari Prides Jogja (bro Diposedici dan kawannya) serta bro2 HTML (bro Erwe cs).

Yang ditest adalah si BJ dengan CDI BRT pengapian 37 dan 35, lalu P200 std milik bro Dipo sebagai perbandingan, dan Ninja KRR 150 milik bro Erwe.

Hasil dyno si BJ :

dengan pengapian 37 drjt adalah :
Power = 20,9 hp @ 8195 rpm
Torque = 19,57 @ 7171 rpm

Sedangkan pada iginition timing 35 :
Power = 20,9 hp @ 8385 rpm
Torque = 19,42 @ 7057 rpm

Hasil dyno P200 std bro Diposedici :

Power = 18,3 hp (rinciannya lupa, data ada pada flashdisk tapi kayaknya kena virus gak mau kebuka)

Hasil dyno Ninja 150 KRR bro Erwe :

Power = 30 hp

Penjelasan :
– Seperti prediksi sejak kmaren, grafik hasil dyno si BJ menunjukkan kurva rata dari bawah ke atas Hal ini dianggap sebagai hal positip oleh para punggawa Mototech, hanya di rpm puncak kayaknya pengapian 35 apalagi 37 masih terlalu maju… tapi sampai 8000 rpm, timing 37 drjt enak banget… sayang fitur dual band CDI BRT dari sonony diprogram beda hanya dua drajat aja…..

– rencananya mau nyoba pake CDI Rextor LE di koil/busi kiri, dikombinasikan dengan CDI Std untuk koil/busi kanan. Namun saat dipasang semua, mesin kayaknya okay, tapi bacaan tacho/rpm menjadi ngaco, terlalu tinggi dari yang seharusnya. Kalo dipaksakan naik dyno, dikuatirkan tacho akan jebol… jadi diputuskan minggu depan Mas Londo akan meriset dulu perkabelan yang nyambung ke tachometer, barulah jumat depan akan dilakuan test dyno dengan menggunakan CDI Rextor LE dikombinasikan dengan CDI Std…….

– diharapken CDI Rextor akan dapat menambah power minimal 1 sampai 1,5 hp sehingga target power max 22 hp (pake atau gak pake koma sama aja) bisa tercapai… hehehehehe…. critanya gak mau kalah sama Scorpio dan salah 1 Tiger bro HTML yang mencapai 22 koma sekian hape……

Sedangkan hasil 18,3 hp yang dicapai oleh P200 bro Diposedici termasuk “amazing” bagi ukuran motor yang masih std ting-ting…. saran mas Londo, untuk peningkatan power untuk motor bro Dipo, adalah dengan melakukan Port n Polish… sebelum ganti CDI/Koil dll…… Bro dipo sempat nanya apakah harus ke bengkel MJ… lalu kawan2 HTML langsung menanggapi : itu kalok di Jkt.. sedangkan Jogja adalah gudangnya tuner mesin motor…. a.l. mas Londo ini…. hehehehehe….

Mengenai hasil 30 hp untuk Ninja KRR bro Erwe, kayaknya karena settingan idealnya belum ketemu. Jika semuanya pas, diprediksi bisa mencapai antara 32-34 hp….

print out grafik dyno untuk sementara blum bisa ditampilkan karena flashdisk mengalami problem… kalo sudah bener, pasti akan di upload…..

Trima kasih kepada bro Dworo, Diposedici dan kawannya, serta bro Erwe dan rombongan HTML yang telah hadir siang tadi di Mototech..

Kesimpulannya : hasil dyno masih blum mencapai target 22 hp… kenapa 22 hp ? karena ada tigor dan scorpio bro2 HTML yang bisa mencapai 22 koma sekian hp di Mototech…… jadi mereka kujadikan benchmark…. mudah2an dengan CDI RExtor target itu akan tercapai minggu depan…. kalo gak, kata Mas Londo, akan dibikin cam yang baru, dengan lift dan durasi lebih extrim, dan kemungkinan itu masih terbuka karena kinerja perklep kombinasi thunder 250 dan scorpio terbukti cukup mendukung…

hank13 said:
Klo bisa seh (buat aku) tetep max rpm 10.500, tapi bagaimana mengoptimalkan power di range rpm yg ada, daripada memaksakan main hi-rev tapi beresiko tinggi. Macam motor2 Ducati kan max rpm cuman gak lebih dari 11-12000 rpm. Peak power aja di 9000rpm an,, tapi toh di Superbike tetep juara…🙂

nih laen lagi:
Mohon masukan, apalagi yang bisa dilakukan untuk lebih meningkatkan performa P200 ku ? gimana dengan :
– ganti klep dng milik Tiger supaya lebih kuat sehingga limiter di CDI BRT bisa diset sampai 12.000 rpm ?
– ganti/modif kem ? dengan kem merk apa yg pas, atau ada yang bisa memodif kem std P200 ??
– kalo parts P220 sudah tersedia, mungkin bisa adopsi pin-stroke ?? (karena kabarnya diameter piston P220 sama aja dengan piston P200)
– atau aplikasi forced induction mis : NOS / Turbocharger ?

Tuesday, 13 October 2009
Meningkatkan performa Pulsar memang ada step2nya, tergantung dana dan keinginan pengguna :

1) meningkatkan pengapian dengan penggantian koil hi-perf (merk ada mcm2 mulai Protec V3, YZ-125, dll). Kalok CDI menurut pengalamanku belum ada yang benar2 bisa diandalkan utk karakter mesin Pulsar dengan dua busi. Yang ideal adalah CDI hi-perf yang bisa diprogram untuk mencari timing pengapian terbaik di setiap tingkatan rpm, sekaligus mematikan pengapian kanan pada skitar 6000 rpm. Peningkatan pengapian ini bisa dibarengi dengan perubahan PJ/MJ tergantung kebutuhan mesin.
2) Jika ingin lebih “maknyus”, maka Port n Polish (PnP) adalah hal mutlak. Harus dicatat, PnP TIDAK membuat boros bbm, karena PnP justru meningkatkan efisiensi volumetrik proses pembakaran. Setelah PnP, biasanya tenaga mesin lebih responsif, dan karena itu tangan kita jadi lebih “responsif” juga memlintir gas… Itulah yang bikin bbm lebih boros.

3) Jika msh blum puas juga, bisa dilakukan penggantian karbu std vakum dengan yang sistem non-vakum yang memiliki fitur “accelator pump”. PJ/MJ disesuaikan dengan kebutuhan mesin. Dalam hal ini, seperti yang udah diterapkan oleh bro Daniel Tners, karbu std Tiger yang direamer hingga 33 mm terbukti maknyoss digunakan pada Pulsar.
Karbu non-vakum itu cocok dipadukan dengan airfilter model terbuka misalnya K&N. (dan sebaliknya, open air filter sangat tidak cocok utk karbu vakum std).

4) Jika msh juga blum puas, bisa dicoba penggunaan pipa knalpot/silencer yang free flow. Dalam hal ini sangat direkomendasikan knalpot utk PIBO dan PZOO std produk bro Adie Sheldiez Bdg, yang sudah terbukti meningkatkan power PIBO std sebesar 3 hp di mesin dyno. Knalpot Sheldiez itu bisa maknyus karena dibuat berdasarkan itung2an teknis: diameter exhaust port dan borexstroke. Masalahnya cuman soal tampilan fisik yang agak “butek”.. Tapi memang hasil positip dlm hal performa kadang harus mengorbankan segi estetika hehehe…

5)sampai tahap no. 4 itu seharusnya tenaga mesin sudah mengalami peningkatan, sehingga bisa dilakukan penggantian perbandingan gir depan/blakang, dari std-nya P200 14/38 menjadi misalnya 14/35 untuk lebih memaksimalkan topspeed. Apabila tujuannya cuman meningkatkan akselerasi awal, tidak perlu upaya peningkatan power mesin. Mesin std sudah cukup, dipadu dengan perubahan gir menjadi lebih ringan, misalnya dari 14/38 menjadi 14/41.

6)Jika misih kurang puassss, maka sudah saatnya merambah daleman mesin : bore-up / stroke-up / modif cam / ganti klep lebih besar. Utk urusan “serius” ini jangan main coba2.. konsultasikan dan serahkan urusannya pada para suhu mesin, atau “engine builder” yang pengalaman. Yang bisa direkomendasikan adalah a.l. Mas Londo (tim Manualtech) di Jogja, bro Adie Sheldiez di Bandung, Masbro Deden Arsyad (yang menangani cam pulsarnya bro Chandran Raptor), dan mungkin aja ada nama2 lain yang aku blum tau… Perlu dicatat : banyak bengkel/mekanik yang mampu menangani “bore-up” atau “stroke-up”, tapi blum tentu mampu atau pengalaman dalam hal modif camshaft utk mengubah durasi dan lift cam, atau menghitung perubahan sudut klep karena penggunaan klep lebih besar.

7)jika msh blum puassss juga, ini solusi terakhir : copot mesin std pulsar Anda, ganti dengan mesin Ninja 250R atau Bandit 400cc…. hehehehe…. !
Source: tulisan bro oldlovediehard di milis bajaj_pulsar_indonesia@yahoogroups.com


Responses

  1. I’m gone to say to my little brother, that he should also go to see this webpage on regular basis to obtain updated from newest gossip.

  2. a Bruce Lee workout includes stretching,
    bending, running, dipping, kicking, jumping, traditional muscle building exercises, weight
    lifting, rope skipping, medicine ball handling, etc. Vinson had participants keep their normal diet and exercise routines (or lack
    thereof) and merely added the green coffee. Then leave it a while until your tummy lets you know that you’re hungry again before opting for a healthy snack.

  3. mas saya pengguna bajaj p 200 dr bali pingin info untuk meningkatkan performa mesin saya biar enak tp ga sampe rubah mesin tuh. apa aja yang sebaiknya d preteli dan masih dalam jangkauan standar kerja mesin atau tidak di paksa tuh mesin. dan satu lagi, bisa ga p 200 saya di pasangi menjadi 6 speed kaya tiger?
    trims atas bantuannya!

  4. bro bisa gak bajaj p200 dipasangin mesin GSX400…?
    thx sarannya…

  5. ow
    klo porting polish ntu mesinnya diapain yh? Kira-kira naikin tenaga ampe brp dk? (tanpa merubah koil spt tahap 1)

    • nih ada artikel bro dari tetangga pedrosa26:
      Porting polish dimulai dari intacke manifold atau biasa disebut leher angsa. Intacke manifold adalah semacam pipa yang menghubungkan antara karburator dengan ruang bakar.
      Intacke manifold dibuat halus bagian dalamnya bisa dengan dengan di ampelas sesudah itu tinggal digosok pakai batu ijo. Setelah bagian dalam intacke manifold halus tinggal di atur arahnya. Diusahakan arahnya langsung menuju ruang bakar yang ada tempat businya. Hal ini dimaksudkan agar bahan bakar yang masuk bisa lebih cepat dan langsung menuju posisi busi yang nantinya percikan api busi langsung menyambar uap bahan bakar tersebut. Sehingga akan terjadi pembakaran yang tepat waktu. Kemudian klep masuk dan keluar juga ditata ulang sudutnya supaya arus masuk dan keluar lancar. Ukuran intacke manifold , klep in, klep out tidak luput dari sentuhan, ukurannya harus disesuaikan dengan volume ruang bakar agar tercipta efisiensi pembakaran sehingga power yang dihasilkan lebih maksimal. Porting polish sangat penting terutama untuk motor yang sudah di korek karena di ruang bakar inilah tenaga motor mulai dibentuk. Secara keseluruhan ruang bakar memiliki peranan sekitar 30% dari seluruh sistem pada mesin motor. Untuk biaya porting polish sendiri relatif tidak ada harga yang pasti. Tapi yang saya ketahui saat ini paling mahal biaya porting polish adalah Rp 350.000,00
      Diposkan oleh Anhar di 01:32

  6. kalo ngubah PJ/MJ artinya yaa pilot jet dan main jet punya si karbu, tapi kalo pnp bisa di MJ artinya yaa MJ bengkel recomend Bajaj di jakarta nih alamatnya:
    Bengkel sepeda motor MJ Motor Service & Modification
    Alamat bengkel :

    Jl.Sultan Iskandar Muda No.8 Jaksel
    Telp. : 021-7238033
    Contact person : Nursahid

    HP. : 021-92614493 (esia)
    Jasa layanan :

    Service, Modifikasi mesin, korting polish, bore up, modifikasi kaki-kaki-body-costom dan limbah moge.Spesialis modifikasi motor Bajaj

  7. mau tanya, saya juga mau pnp nih. Baca diatas2, bisa pnp di MJ. Apaan sih MJ itu? maaf katro, saya baru pakai pulsar 2 bulan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: