Oleh: PBC | April 14, 2010

HELM SNI

nilah 19 Merk Helm yang Penuhi Standar SNI KOMPAS/WISNU WIDIANTORO Pengendara sepeda motor memilih helm yang dijual pedagang di pinggir Jalan Gedong Panjang, Jakarta Barat, Selasa (6/4/2010).

JAKARTA, KOMPAS.com — Peraturan mengenai helm Standar Nasional Indonesia (SNI) yang termaktub dalam Peraturan Menteri No 40/M-IND/Per/6/2008 tentang Pemberlakuan SNI Helm Pengendara Kendaraan Bermotor Roda Dua dan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mulai diberlakukan per tanggal 1 April 2010. Ketentuan ini menimbulkan sejumlah pertanyaan di kalangan bikers (pengendara sepeda motor), seperti apakah helm yang memenuhi ketentuan SNI? Kebingungan yang lain adalah apakah helm-helm “mahal” yang tidak berlogo SNI tetapi memiliki standar keselamatan internasional bisa dikenakan untuk berkendara?

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Boy Rafli Amar kepada Kompas.com, Rabu (7/4/2010), menegaskan, prinsipnya helm yang digunakan para pengendara motor bukanlah helm “asal tempel di kepala”. “Helm yang asal tempel saja seperti helm proyek ya enggak boleh,” kata Boy. Boy menuturkan, pihaknya mencatat ada 19 merek helm yang memenuhi standar SNI dilihat dari segi kualitas desain dan bahan. Berikut ke-19 merek tersebut: NHK, GM, VOG, MAZ, MIX, INK, KYT, MDS, BMC, HIU, JPN, BESTI, CROSX, SMI, SHC, HBC, CABERG, Cargloss Helmet, dan OT5OKOGI. “Ini bukan masalah merek. Namun, kalau ada helm yang berkualitas bagus, sudah berfungsi dengan baik ya enggak akan kami tilang kok,” tandas dia. Helm bersertifikasi internasional, seperti Department Of Transportation USA (DOT) yang merupakan sertifikasi kualitas produk yang dikeluarkan oleh Departemen Transportasi di Amerika atau Snell Memorial Foundation (Snell), yang merupakan sertifikasi keluaran badan independen internasional khusus untuk menangani masalah helm, juga dipastikan tidak termasuk obyek razia polisi. ANI Editor: mbo Apa Beda Helm SNI dan Bukan? Rabu, 7 April 2010 | 18:35 WIB KOMPAS/RIZA FATHONI Pegawai menjajakan helm di toko perlengkapan bermotor di kawasan Larangan, Ciledug, Tangerang, Selasa (6/4/2010). Pemberlakuan standardisasi SNI (Standar Nasional Indonesia) pada helm meningkatkan permintaan helm. Penjualan helm SNI di toko itu naik empat kali lipat menjadi 80 buah per hari. TERKAIT: * BSN Akui Masih Ada Pandangan Miring soal Helm SNI * Helm SNI Harus Lewati 9 Cara Uji * Permintaan Helm SNI Melonjak * Masih Ada Produsen dan Masyarakat Belum Tahu Helm SNI * Hati-hati Helm SNI Palsu JAKARTA, KOMPAS.com — Untuk mengurangi risiko kecelakaan bagi pengendara sepeda motor, pemerintah memberlakukan wajib helm Standar Nasional Indonesia (SNI) sejak pekan lalu. Namun, hingga kini sebagian besar orang belum mengetahui beda helm tanpa SNI dan helm dengan SNI. “Masyarakat itu tahunya helm tanpa SNI lebih murah. Sisanya mereka tidak peduli terhadap keselamatan dirinya ketika mengendarai motor dan menggunakan helm sembarangan,” kata Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) Bambang Setiadi saat berbincang di kantornya, Jakarta, Rabu (7/4/2010). Helm dengan label SNI jelas lebih terjamin kualitas dan mutunya dibandingkan dengan helm tanpa SNI. Pasalnya, helm SNI telah melewati serangkaian uji oleh BSN. Sayang, dari total produksi helm lokal sekitar 9 juta per tahun, sekitar 20-30 persen di antaranya berkualitas nonstandar. Sekitar 30 persen helm yang beredar di pasar merupakan produk impor yang diduga nonstandar, terutama yang berasal dari China. Lantas, bagaimana membedakan helm SNI dan non-SNI? Menurut Bambang, helm SNI yang sudah disertifikasi ditandai dengan pencantuman tanda SNI berupa emboss dan bukan ditempel atau menggunakan stiker. “Ini perlu dilihat baik-baik. Ada tanda SNI yang di-emboss enggak? Kalau enggak, itu palsu. Bukan SNI,” terang Bambang. Staf Ahli Asosiasi Industri Helm Indonesia (AIHI) Thomas Lim mengakui, saat ini ada indikasi produsen atau importir “nakal” yang memalsukan emboss lambang SNI. Padahal, produsen ini belum mengantongi sertifikasi SNI. “Indikasi itu mulai ada. Emboss-nya dipalsukan, padahal sertifikasi itu enggak mudah lho prosesnya,” tutur dia. Modus lainnya, setelah memiliki sertifikasi produsen mulai mengurangi standar produk helmnya yang akan disebarkan di pasar. Hal senada disampaikan Bambang. Menurut dia, banyak oknum pengusaha nakal dan mencoba mengakali SNI. “Itu sangat mungkin terjadi. Dan itu enggak hanya di helm, di produk lain seperti pupuk juga ada. Tetapi masyarakat yang akan menilai,” cetusnya. Untuk mengenali helm SNI palsu ini juga tidak mudah. Pasalnya, emboss SNI palsu hampir mirip dengan emboss yang asli. Kualitasnya juga sulit dibedakan dengan mata telanjang. Untuk itu konsumen harus cerdas dalam membeli helm SNI. Thomas menyarankan agar konsumen membeli helm SNI di toko-toko yang dapat dipertanggungjawabkan. “Ya belilah helm di toko-toko besar yang kira-kira bisa dipertanggungjawabkan,” tutur dia


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: